Senin, 03 September 2012

Risiko di Balik Profesi PengemisTopeng Monyet

“Ada beberapa penyakit yang
spesifik diderita oleh monyet."
Seorang pengamen topeng monyet,
Durjana, mengaku khawatir
dengan resiko penularan penyakit
dari interaksinya dengan monyet
yang dibawanya untuk mengemis
di beberapa titik di kawasan
Jakarta dan sekitarnya.

Namun Durjana mengatakan
dirinya selalu mengurus dan
mengobati monyet yang
dipekerjakannya bila monyet itu
menunjukkan gejala sakit seperti
bersin-bersin.


“Kalau monyet kelihatan sakit flu
dan mulai bersin, saya coba obati
dengan memberinya obat flu yang
biasa untuk digunakan manusia
tapi dengan dosis setengah,” ujar
Durjana ketika dihubungi, hari
ini.

Durjana, yang berasal dari Cirebon,
Jawa Barat ini mengatakan bahwa
monyet yang dipekerjakannya
untuk mengamen juga pernah
menggigit orang.

“Saya kawatir juga orang yang
digigit itu akan sakit, tapi saya
tanggung jawab dengan
membawanya ke dokter untuk
diobati,” klaim Durjana, sambil
menambahkan bahwa dia juga
selalu menanyakan dan memantau
kondisi orang yang digigit
monyetnya apabila dalam
perjalanannya mengamen melewati
daerah dimana korban gigitan
monyetnya itu tinggal.

David van Gennep, direktur
eksekutif AAP, suatu pusat
penyelamatan dan perlindungan
primata dan mamalia eksotik yang
berbasis di Belanda, mengatakan
bahwa mengobati monyet yang
menunjukkan gejala sakit tidak
semudah itu. Penyakit-penyakit
yang mungkin diderita sang
monyet, ujar van Gennep, tidak
akan kelihatan di permukaan
secara fisik pada hewan tersebut
dan hanya bisa dideteksi melalui
tes kesehatan, seperti yang
dilakukan bulan lalu oleh
kelompok penggiat kesejahteraan
binatang, Jakarta Animal Aid
Network (JAAN) terhadap
beberapa monyet jalanan yang
disita dari pengemis.

Hasil tes terhadap empat dari 21
monyet yang disita menunjukkan
mereka menderita tuberculosis,
Hepatitis B, Hepatitis C,
leptospirosis dan herpes, sehingga
mereka terpaksa di euthanasia
untuk mencegah terjadinya
zoonosis, atau penularan penyakit
dari hewan kepada manusia dan
sebaliknya.

Sebagai ahli virus, van Gennep
mengatakan bahwa dia dapat
mengetahui monyet-monyet yang
dipekerjakan itu sudah terjangkit
suatu jenis penyakit yang belum
diketahui oleh manusia.

“Ada beberapa penyakit yang
spesifik diderita oleh monyet dan
tidak akan jadi masalah bila hanya
terjadi pada mereka, namun akan
jadi masalah ketika terjadi
transmisi penyakit itu dari hewan
ke manusia atau sebaliknya,”
ujar van Gennep ketika ditemui saat
berkunjung ke Jakarta belum lama
ini.

“Hal inilah yang menjadi
kekhawatiran utama saya dengan
topeng monyet, karena kontak
monyet yang terlalu dekat dengan
manusia. Hal itu tidak baik untuk
keduanya, baik hewan dan
manusia, karena bila timbul
penyakit menular, hewan akan
dimusnahkan,” ujar van Gennep.
Namun Durjana yang tinggal di
kawasan Angke, Kecamatan
Tambora Jakarta Barat, menampik
kekhawatiran seperti itu.

“Sejauh ini belum pernah ada
kasus yang digigit monyet saya
sampai sakit parah,” ujar Durjana
yang tempat tinggalnya tidak jauh
dari lokasi kebakaran di Dermaga
Dua, Muara Angke, Jakarta Utara
yang terjadi pada Senin (20/8).
Tempat itu pula yang menjadi
lokasi tempat tinggal sekelompok
pengemis topeng monyet.

“Saya dapat kabar ada satu
monyet yang jadi korban mati
dalam kebakaran itu,” ujar
Durjana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar